Code Geass

An RPG Forum
 
IndeksIndeks  AnnouncmentAnnouncment  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
User Yang Sedang Online
Total 2 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 2 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 17 pada Sat Jul 06, 2013 12:32 pm
Latest topics
» Presensi Forum
by Skyline Chandelier Sat Jul 09, 2011 1:20 am

» [Story Telling] If....
by verin ichihara Fri Jun 24, 2011 11:56 am

» today's song playlist
by Skyline Chandelier Thu Jun 23, 2011 11:45 pm

» sambung kalimat!~ouranus style~
by verin ichihara Wed Jun 22, 2011 8:59 pm

» teptep gallery
by steffi_kuran Thu Jun 09, 2011 9:16 pm

» Yellow....
by Ethan Shen Ying-nian Sat May 15, 2010 7:12 pm

» [RP] Cafetaria, we come!
by Tristan Sonata Tue May 11, 2010 8:03 am

» Jadwal Pelajaran Ouranus Academy - SMA
by Tristan Sonata Mon May 10, 2010 7:41 pm

» Tristan Sonata - 1st Grade, SMA Ouranus Academy Jurusan Umum
by Claire Mon May 10, 2010 5:32 pm

Affiliates
free forum
Follow us on Twitter
brothersoft.com
World of Cantabile
Al'loggio
tenipuri-indo
Niji Lima - Ganbarimashou!
Photobucket

Share | 
 

 [omake] Between two

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Claire
Admin
avatar

Jumlah posting : 994
Join date : 03.05.09
Age : 25
Lokasi : Bandung

Character sheet
Character Name:: I.I.
Social Status: The code
Job: Random

PostSubyek: [omake] Between two   Fri Apr 30, 2010 7:56 pm

I.I
“Bukankah menyenangkan bisa hidup terus dan tidak mati?” Henry bertanya dengan polosnya pada I.I

“Fufu… mungkin kau akan menarik ucapanmu setelah mengalaminya. Rasanya sama sekali tidak menyenangkan. Kau melihat satu per satu orang yang kau sayangi dan cintai mati dihadapanmu, karena usia, sakit atau peperangan. Dan itu akan berulang. Mereka pergi ke tempat peristirahatan mereka yang tenang, sedangkan aku? Aku masih diam di sini menerima kutukan ini.” I.I menjawabnya dengan sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya.


Ini kisah mengenai I.I jauh-jauh hari sebelum dia masuk ke dalam tabung itu. Kisah diamana dia hidup seperti gadis biasa.

Ini pertama kalinya I.I mengunjungi Jepang. Dia bersyukur punya kemampuan menghafal yang ceapt, jadi dengan cepat pula dia berbaur bersama masyarakat di sana. I.I dikenal sebagai gadis manis yang baik hati. Dia juga sering ikut bernyanyi atau ikut menari bersama warga sekitar. Keceriaan dan kebaikannya itu mengundang perhatian seorang pemuda bernama Satoshi. Pada akhirnya Satoshi memberanikan diri untuk berkenalan dan mengenal lebih jauh I.I. Akhirnya mereka pun mulai saling menyapa, saling berbicara hal-hal ringan seperti cuaca dan akhirnya berujung pada obrolan-obrolan yang lebih dari sekedar basa-basi.

“Tarian dan nyanyianmu selalu bagus seperti biasa.” Satoshi memujinya. I.I langsung tersenyum senang.

“Terima kasih!” ucap gadis itu sambil membungkuk.

“Oh, iya maukah kau makan siang bersamaku di kedai dango yang ada di ujung jalan?” Satoshi mengajak I.I untuk berjalan-jalan, well, sebut saja kencan.

“Boleh saja, dengan senang hati.” I.I mengikuti pemuda itu dengan riang.

“Boleh kutahu namamu? Rasanya aneh, selama ini kita sering bercakap-cakap tapi tidak pernah saling berkenalan. Oh, ya, aku sendiri lupa mengenalkan diriku. Namaku Satoshi Minami.”

“Aku…” I.I terdiam sesaat. Tidak mungkin dia memberitahu Satoshi dengan nama code seperti itu,”aku… tidak punya nama?”

“benarkah?” Satoshi terbelalak tidak percaya.

“Benar. Aku selalu berkelana sampai-sampai aku hampir lupa darimana asalku dan siapa diriku yang sebenarnya.” I.I menjawab dengan raut sedih. Sebuah kepahitan yang dirasakannya.

“Kalau begitu aku yang akan memberimu nama!” Satoshi tersenyum lebar.

“Eh?”

“Tunggu.,. hmmm… hana… hmm… kurang cocok… mungkin… Tsuki! Karena matamu yang berwarna keemasan dan bercahaya ketika menari. Seperti bulan yang bersinar di malam hari.” Satoshi menjelaskan filosofi nama itu.

“Tsuki… tsuki… nama yang bagus.” I.I tersenyum senang. Baru kali ini ada yang peduli dan memberinya nama seperti itu.

Hari demi hari pun berlalu. Semakin hari I.I dan Satoshi semakin akrab. Namun, tiba-tiba pecahlah perang. Perang yang berawal dari sebuah kudeta. I.I dan Satoshi melihat orang-orang yang mereka cintai dan kasihi satu persatu mati. Mereka pun terpaksa harus terus berlari dan berlari untuk menghindari perang yang semakin meluas itu.

“Tsuki, tenanglah… aku pasti akan melindungimu.” Sebuah janji dari seorang kekasih terucap dari mulut Satoshi sambil memeluk erat I.I, untuk sesaat I.I merasa lebih aman.
Tapi kemudian, Satoshi terpaksa terjun ke medan perang karena jika dia tidak ikut, mereka mengancam akan membunuh Tsuki. Satoshi yang tidak sanggup melihat orang yang dicintainya tersakiti, akhirnya terpaksa turun. Dia berjuang dan terus bertahan hidup. Sampai suatu ketika, sebuah tebasan pedang membuatnya terluka parah dan sekarat. I.I yang mengetahui ini langsung berlari mencari Satoshi dan membawanya ke tempat perlindungan.

“Satoshi… kumohon… bertahanlah…” gadis itu mencoba mengobatinya, tapi terlambat. Dia tidak bisa melakukan apapun lagi.

“Tsuki… maafkan aku tidak bisa melindungimu. Aku ingin kau terus hidup dan merasa bahagia. Teruslah hidup…” dan Satoshi pun menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan I.I. Saat itu juga air mata terus mengalir dari mata I.I

“Andai saja aku memberimu kekuatan itu… andai saja… kau tidak akan mati seperti ini…” I.I terus menyesalinya. Bahkan hingga hari ini.

Itulah salah satu alasan I.I memberikan kekuatan itu pada Henry yang menyelematkannya. Dia tidak inigin melihat orang yang menyelamatkannya mati lagi tepat di hadapannya.

”Justru keinginan terbesarku adalah bisa meninggalkan dunia ini dan tertidur dalam tenang selamanya.” I.I mengatakan harapannya selama ini pada Henry. Henry menatapnya galak dan berkata,”syukuri saja kau masih bisa hidup hingga kini. Banyak orang yang tidak ingin mati, kau tahu?”
I.I hanya tertawa,”kau ini benar-benar naïf.”

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://code-geass.forumotion.net
Claire
Admin
avatar

Jumlah posting : 994
Join date : 03.05.09
Age : 25
Lokasi : Bandung

Character sheet
Character Name:: I.I.
Social Status: The code
Job: Random

PostSubyek: Re: [omake] Between two   Fri Apr 30, 2010 7:59 pm

Henry

Ini adalah awal pertemuan I.I dan Henry.

”Naito…”

Suara itu terdengar lagi. Setiap kali aku melewati kawasan ini, selalu saja terdengar suara itu. Seperti memanggil diriku walau bukan memanggil namaku. Sudah seminggu lebih aku mengalaminya. Karena penasaran, aku putuskan untuk menelusuri salah satu distrik di Area 11 yang sudah hancur dan berantakan. Aku berjalan semakin lama semakin dalam dan suara yang memanggilku pun semakin jelas terdengar.

Aku sampai di depan sebuah gedung yang merupakan bekas laboratorium. Entah apa alasan laboratorium ini hancur dan ditinggalkan begitu saja oleh manusia. Aku memasuki lab itu perlahan, melompati puing-puing yang menghalangi jalanku. Akhirnya aku sampai pada sebuah tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Dari sana terdengar jelas suara yang memanggilku.

Betapa kagetnya aku ketika mendapati apa yang ada di ruang bawah tanah itu. Aku mendapati sebuah tabung raksasa dengan banyak sambungan kabel yang menyambung pada tabung itu. Di dalam tabung itu terdapat cairan berwarna bening yang bergelembung dan terdapat seorang gadis di dalamnya. Baru kali ini aku melihat ada manusia yang dibekukan di dalam tabung seperti itu. Aku sendiri sangsi kalau gadis itu masih hidup.

”Selamatkan aku…”

Suara itu lagi. Kini aku tahu darimana asal suara itu, dari gadis itu. Aku memperhatikannya dan merasa takjub. Apa dia masih hidup?

Lalu sepasang mata emas perlahan terbuka dan menatapku. Mata gadis itu berwarna keemasan dan sangat indah seperti warna madu. Aku tersihir oleh tatapan matanya itu. Tanpa sadar aku bergerak sendiri menuju tabung itu. Lalu aku mendekati sebuah kumpulan tombol yang ada di sana. Tanganku menekan angka-angka secara acak lalu menarik tuas di sana. Aku baru sadar kalau aku baru saja melepaskan gadis itu. Tapi tak apalah, kasihan juga dengannya yang entah berapa lama ada di dalam sana.

Perlahan cairan di dalam tabung itu berkurang. Saat cairan itu benar-benar habis, tabung terbuka dan gadis itupun jatuh. Aku segera menangkapnya. Kulihat wajahnya sangat pucat dan tubuhnya dingin. Sekujur tubuhnya basah. Aku bertaruh tubuhnya pasti lemas sekali.
Gadis itu menggerakan bibirnya tapi aku tak mengerti. Mungkin saja dia mengatakan terima kasih. Aku langsung menggendong gadis itu dan membawanya keluar dari gedung ini. Yang penting sekarang dia harus dibawa ke rumah sakit. Bisa-bisa dia mati kedinginan.

Sayangnya, sekelompok orang yang berpakaian hitam dan bersenjata mengepung gedung itu. Mereka langsung mengarahkan senapan mereka kea rah kami. Sepertinya mereka mengincar gadis ini. Instingku mengatakan bahwa aku harus melarikan diri, maka saat itu juga aku melarikan diri dari mereka.

Namun, sejauh apapun aku berlari, mereka tetap mengejar. Akhirnya kami sampai pada sebuah jalan buntu. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku pun jatuh terduduk karena kelelahan. Mereka langsung mengepungku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mereka mulai menarik pelatuk senapan dan mengarahkannya padaku.

DOORRRR!

Terdengar suara letupan senapan. Tapi, aku tidak merasakan apapun. Apakah pelurunya meleset? Tidak mungkin. Saat kubuka mataku, aku melihat gadis itu melindungiku dan peluru-peluru itu menembusnya. Tak lama gadis itupun jatuh tepat di depanku dengan berlumuran darah.

“tidak… tidak…” aku mulai shock dengan apa yang terjadi di hadapanku. Gadis itu berusaha menyentuh tanganku, dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Saat dia menyentuhku seperti ada sengatan listrik yang menjalar.

Tiba-tiba saja penglhatanku dipenuhi oleh visualisasi yang aneh. Terlalu cepat jadi terasa buram olehku. Aku merasakan pening dan mata kananku serasa terbakar. Rasanya sangat panas. Tapi itu berlangsung hanya beberapa menit saja. Saat kubuka kembali mataku, aku bisa mendengar apa yang ada dipikiran tentara-tentara itu.

“Jangan bunuh…” aku berkata dalam hati.

“jangan bunuh? Siapa yang bilang jangan bunuh bocah ini?”

“siapa yang memerintahkan itu?”

“jangan bunuh bocah ini?”

Suara hati mereka seperti merespon apa yang kukatakan. Akhirnya kau memanfaatkan hal
ini untuk mengadu domba mereka. Dengan mudahnya mereka terpancing dan akhirnya saling bunuh, hingga tak ada yang tersisa satupun kecuali aku.

Aku hanya diam melihat mayat-mayat itu, termasuk mayat gadis itu. Aku langsung berlari meninggalkan rumah itu dan kembali pulang ke rumah. Aku langsung mengurung diri dalam kamar dan tertidur begitu saja saat merebahkan diriku di kasur.
Ketika esok paginya aku bangun, semuanya terasa seperti mimpi dan akupun menganggapnya sebagai mimpi. Hari ini akan berjalan normal dan biasa-biasa saja. Pasti.

Semua hanyalah mimpi. Aku bangun dari tempat tidurku dan pergi bersiap untuk pergi ke kota. Hari ini hari libur kan? Jadi tak ada salahnya aku sedikit berlibur.
Rumah pun kosong seperti biasa karena kedua orangtua-ku, Mr. dan Mrs. Crossroad sekarang sedang menetap di Britania untuk urusan bisnis. Aku juga diajak untuk ke sana, tapi aku lebih memilih menyelesaikan studi-ku di sini dan juga ada perasaan aneh untuk tidak meninggalkan Area11 ini, aku tidak tahu alasan pastinya.

Aku berjalan melewati gerbang rumah. Pagi yang cukup cerah dan sepertinya kereta juga tidak akan terlalu penuh hari ini. Hari ini aku benar-benar akan pergi jalan-jalan. Melupakan kesibukan dan hal-hal lainnya untuk sejenak.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://code-geass.forumotion.net
Claire
Admin
avatar

Jumlah posting : 994
Join date : 03.05.09
Age : 25
Lokasi : Bandung

Character sheet
Character Name:: I.I.
Social Status: The code
Job: Random

PostSubyek: Re: [omake] Between two   Fri Apr 30, 2010 8:02 pm

”Naito…”

Suara itu lagi… kukira semua hanya mimpi dan aku tidak akan mendengarnya lagi, ternyata tidak. Aku langsung menoleh mencari sumber suara itu. Dan saat aku berbalik aku menemukan seorang gadis yang mengenakan topi pet, blazer, rok pendek, sepatu boot selutut dan kacamata hitam. Terlihat cantik dan modis. Rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi aku sendiri ragu akan kebenarannya.

Gadis itu tersenyum dan melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata emas yang tak asing bagiku menatapku dengan tatapan penuh arti tersembunyi. Mata emas yang menghanyutkan itu…

“Selamat pagi. Kuharap kamu mengingatku.” Gadis itu tersenyum dan menyapaku lalu melepas topinya. Aku langsung ingat ketika rambut cokelatnya tergerai lembut di punggungnya. Gadis itu…

“Kau? Jadi aku tidak bermimpi?” Aku melompat kaget. Kukira semua itu hanya mimpi, ternyata bukan. Sepertinya ini bukan sesuatu yang menyenangkan.

“Tentu saja bukan mimpi.” Gadis itu langsung mendekatiku dan menyentuh wajahku.

“Kalau ini hanya mimpi, kau tidak akan merasa apapun saat kusentuh begini.”

“Bukankah… kau sudah mati? Dengan luka seperti itu…” Aku masih tak percaya dan menepis sentuhan tangannya di wajahku.

“Tidak… aku masih hidup. Tembakan kemarin cukup menyakitkan, tapi aku bisa sembuh dengan cepat.” Gadis itu tersenyum, seolah-olah apa yang diucapkannya itu bukanlah hal yang aneh.

Aku hanya diam melihatnya dan tidak merespon apapun pada apa yang diucapkannya. Aku tidak percaya semua ini.

“Untuk apa kau datang ke sini?” Aku bertanya, pada akhirnya. Benar, untuk apa dia ke sini.

“Untuk berterima kasih padamu dan menjelaskan banyak hal. Naito…” gadis itu lagi-lagi menjawab sambil tersenyum.

“Namaku bukan Naito…” aku bergumam.

“Ya?” Gadis itu sepertinya mendengar apa yang tadi kuucapkan.

“Namaku bukan Naito. Namaku Henry Crossroad. Mungkin kau salah orang, sampai-sampai memanggil dengan nama Jepang begitu.” aku memprotesnya. Gadis itu terlihat agak kaget lalu kembali tersenyum.

“Oh… aku tidak salah orang, aku memang menemui orang yang benar, Henry.” Gadis itu menambahkan.

“Sudahlah… aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Aku harus pergi.” Akupun berbalik dan pergi meninggalkannya.

“Henry Crossroad… apa kau sudah menyadari kalau kau hanyalah anak angkat di keluarga itu?” Aku langsung menghentikan langkahku saat mendengarnya mengucapkan hal itu. Selama ini tidak ada yang tahu mengenai masalah ini. Hanya aku yang tahu bahwa aku bukan anak kandung mereka.

“Kalau kau ingin tahu siapa dirimu… tidak… aku tahu siapa dirimu.” Gadis itu langsung mengatakannya. Mengatakan apa yang ingin kudengar ketika bertemu orang yang tahu masa lalu. Aku menghantikan langkahku, berbalik dan berjalan menuju gadis itu lagi.

“Oke… ikut aku. Tidak enak kita bicarakan di tempat seperti ini.” Aku memutuskan untuk mengorek informasi dari gadis itu. Gadis itu mengangguk dan mengikutiku berjalan menuju taman umum terdekat.

Setelah sampai di sana, aku menatapnya, “darimana kau tahu hal itu?”

“Karena aku tahu siapa sebenarnya dirimu…” jawab gadis itu dengan tenang.

“Siapa diriku ini?” aku langsung bertanya pada intinya. Gadis itu menatapku sejenak lalu tersenyum lembut.

“Kau adalah Naito.” Gadis itu menjawab.

“aku butuh penjelasan, Nona.” Aku mulai memaksanya bercerita.

“Kau pasti tahu kan kapan raja Britania yang sekarang diangkat?” gadis itu malah bertanya.

“Setahun setelah aku dilahirkan.” Aku menjawab singkat.

“Benar… kau juga pasti tahu jumlah pasti anaknya kan? Karena tercantum dalam buku
sejarah.” Gadis itu menunggu reaksiku.

“Aku tahu. Sebearnya apa yang ingin kau…” belum sempat mengeluh, gadis itu mulai bercerita lagi.

“Sekitar lebih dari setahun sebelum pengangkatan dirinya sebagai Raja, dia sempat berkunjung dan tinggal beberapa saat di Jepang. Walau begitu ternyata ada sisi dalam dirinya yang ingin mendamaikan dunia dan mengembalikan Jepang pada kemerdekaannya.

Dalam kunjungannya itu, dia menemukan seorang gadis bangsawan Jepang yang memiliki visi yang sama dengannya. Mereka pun sering berbincang mengenai hal ini. Lalu mereka mulai sering bertemu. Apa yang mereka bicarakan bukan lagi tentang perdamaian kedua
negara, tapi cinta. Ya, mereka berdua jatuh cinta, bahwa pangeran Britania itu jatuh cinta pada seorang gadis Jepang. Semakin hari cinta merekapun semakin dalam. Mereka mulai serius dengan hubungan mereka.” Gadis itu menghentikan ceritanya sesaat, kemudian melanjutkannya lagi.

“Suatu petang di musim semi, gadis itu membawa berita untuk sang pangeran. Berita bahwa di dalam tubuhnya sudah ada buah cinta mereka. Pangeran merasa senang dan bingung. Tapi, walaupun begitu dia berjanji untuk menikahinya. Namun, sayangnya hal itu tidak menjadi kenyataan. Pangeran harus pulang ke kerajaan karena situasi genting dan tidak tahu apakah bisa kembali ke Jepang atau tidak.” Gadis itu lagi-lagi menghentikan ceritanya lalu memetik sebuah bunga di sana dan memainkannya.

“Lalu apa yang terjadi?” tanpa sadar aku sudah larut dalam cerita itu.

“Akhirnya gadis Jepang itu memutuskan untuk terus menanti cintanya bersama bayi yang dikandungnya. Tapi, pihak keluarga marah besar saat mengetahui bahwa putri mereka hamil. Pihak keluarga memaksa untuk menggugurkan kandungan itu. Tapi, gadis itu bersikeras untuk melahirkannya. Akhirnya gadis itupun diasingkan oleh keluarganya karena menjadi aib keluarga. Gadis itu pun melahirkan dan membesarkan anaknya sendiri di luar rumah mewah keluarganya. Dia terus sabar menunggu kedatangan kekasihnya.

“Satu tahun pun berlalu dan anaknya pun tumbuh. Anak laki-laki yang sehat. Gadis itu merasa bahagia dengan kehidupan sederhananya. Suatu hari, dia mendengar berita bahwa raja Britania telah digantikan oleh putranya. Betapa kagetnya dia ketika tahu bahwa yang menjadi raja adalah kekasih yang selama ini ditunggunya. Bukan rasa bahagia yang dirasakannya tapi rasa cemas dan putus asa. Orang yang ditunggunya tidak akan pernah kembali ke sisinya sampai kapanpun.

“Lalu, rumahnya didatangi oleh sekelompok pembunuh bayaran. Spontan dia langsung membawa anaknya dan menyembunyikannya. Bagaimanapun, baginya nyawa anak itu sangat penting. Anak itupun dititipkannya pada orang yang sangat dipercaya olehnya. Setelah anaknya aman di tangan orang tersebut, dia pun dibunuh oleh para pembunuh bayaran itu. Belakang diketahui bahwa kelompok itu adalah orang suruhan Raja Britania yang menganggap mantan kekasihnya itu sebagai aib yang bisa merusak reputasinya.

“Hingga hari ini, anak itupun terus hidup tanpa tahu apapun. Nama anak itu adalah Naito Hoshizora. Seorang anak laki-laki yang dititipkan pada keluarga Crossroad dan kini telah dewasa dengan nama Henry Crossroad.”

Aku terkesiap mendengarnya. Jantung dan otakku serasa berhenti berfungsi. Aku adalah anak dari Raja Britania melalui seorang gadis Jepang? Ini tidak masuk akal.

“Kau hanya mengarang cerita…” aku tidak ingin percaya.

“Tidak… aku tidak mengarang cerita. Lihat ini.” Gadis itu menyodorkan sebuah foto seorang wanita yang sedang memandikan bayinya. Terlihat ada sebuah tanda yang berbentuk seperti bulan sabit di lengan atasnya. Tanda yang sama seperti miliku.

“Jadi… aku…” Aku merasa bingung dan semua ini mustahil. Namun, inilah kenyataannya.

“Ya, kau anak Raja Britania yang tidak diharapkannya. Bahkan dulu dia mencoba membunuhmu untuk menghapus jejak itu. Menghapus apa yang dianggapnya aib.” Gadis itu menegaskan. Tapi, tidak ada unsure provokasi dalam suaranya.
Kami berdua terdiam dan larut dalam keheningan taman itu. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Lalu aku ingat satu hal.

“Apa yang terjadi ketika kau menyentuhku? Semua terasa berubah.” Aku bertanya mengenai hal aneh yang kualami kemarin.

“Aku memberimu sebuah kekuatan. Kekuatan besar yang bisa merubah apa saja. Jenis kekuatanmu adalah bisa mendengarkan pikiran orang lain dan mengutarakan perasaanmu lewat pikiran. Kau bisa menggunakan kekuatan itu semaumu. Kau bisa menggunakannya saat kau perlu dan itu bekerja secara alami untuk merespon keinginanmu menggunakannya.” Gadis itu menjelaskan sambil tersenyum tenang. “kekuatan itu disebut geass.”

“Geass… kekuatan yang bisa merubah semuanya.” Lalu terbesit serangkaian rencana dalam otakku. Rencana untuk membalas kekecewaan bukan hanya ibuku, tapi juga rakyat Jepang lainnya.

“Apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan itu.” Gadis itu langsung terlihat serius dan menghampiriku.

“Aku… akan menaklukan Britania!” Aku langsung tersenyum sinis saat mengatakannya. Gadis itu terlihat kaget dengan apa yang kukatakan.

“terserah padamu. Kekuatan itu adalah hakmu dan milikmu seutuhnya.” Gadis itu menjawab seadanya.

“Aku butuh bantuanmu.” Aku langsung minta bantuannya.

“Tapi… ada harga dari semua bantuan yang akan kuberikan padamu.” Gadis itu menjawab dengan wajah tertarik.

“Tentu saja… semua itu punya harganya masing-masing.” Aku meyakinkannya.

“Oke, aku akan membantumu.” Gadis itupun tersenyum,”tuan Henry vi Britania.”
Dan hidupku berubah total sejak hari itu.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://code-geass.forumotion.net
verin ichihara
Elite Members
avatar

Jumlah posting : 1720
Join date : 10.05.09
Age : 25
Lokasi : in the middle of nowhere

Character sheet
Character Name:: Sheera Li Britannia
Social Status: Kingdom family
Job: Governor area 11

PostSubyek: Re: [omake] Between two   Fri Apr 30, 2010 8:09 pm

Henry vi britannia??

daree????? (yang pasti saudaranya sheera)

ceritanya keren iiih...aku paling suka bagian ini

Quote :
”Justru keinginan terbesarku adalah bisa meninggalkan dunia ini dan tertidur dalam tenang selamanya.” I.I mengatakan harapannya selama ini pada Henry. Henry menatapnya galak dan berkata,”syukuri saja kau masih bisa hidup hingga kini. Banyak orang yang tidak ingin mati, kau tahu?”
I.I hanya tertawa,”kau ini benar-benar naïf.”

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Claire
Admin
avatar

Jumlah posting : 994
Join date : 03.05.09
Age : 25
Lokasi : Bandung

Character sheet
Character Name:: I.I.
Social Status: The code
Job: Random

PostSubyek: Re: [omake] Between two   Fri Apr 30, 2010 8:24 pm

Itu chara utama di CG, gantinya Leon...

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://code-geass.forumotion.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: [omake] Between two   

Kembali Ke Atas Go down
 
[omake] Between two
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Code Geass :: Roleplay Main Chamber :: Story Telling Chamber :: Code Geass Chamber-
Navigasi: